
Sudah dikenal serta terpercaya dalam membuat furnitur dengan bahan dasar kayu, SMK PIKA diminta langsung oleh pihak Gereja Katedral untuk membuat kursi Paus Fransiskus.
Sedikit kilas balik, tepat pada 3-6 September lalu Paus Fransiskus melakukan kunjungan ke Indonesia dengan tujuan menegaskan pesan toleransi antar umat beragama, persatuan, serta perdamaian dunia di tengah meningkatnya ketengangan di beberapa kawasan dunia.
Lantas, tak heran jika kursi yang digunakan Paus Fransiskus tersebut langsung menarik perhatian. Terlebih saat terungkap bahwa dua kursi tersebut dibuat oleh para siswa.
Pasalnya, SMK PIKA yang berlokasi di Semarang, Jawa Tengah memberikan kesempatan bagi para siswa terpilih untuk menunjukkan talenta serta kerja kerasnya dalam membuat kursi itu.
SMK PIKA sendiri ialah sekolah kejuruan yang terfokus pada dunia industri perkayuan. PT Ekamant Indonesia pun sering bekerja sama untuk mengadakan training rutin.
Dengan komitmen dalam melahirkan talenta terbaik, SMK PIKA sering mendapatkan pengakuan dan penghargaan, dari dalam dan luar negeri lewat perlombaan yang mereka ikuti.
Lantas, dengan mendapatkan kehormatan besar dipilih untuk merancang dan memproduksi dua kursi yang digunakan Paus, hal ini semakin menonjolkan kemampuan dari para bibit-bibit unggul Indonesia yakni siswa/i SMK PIKA untuk lebih dikenal dalam industri perkayuan.
Ketika tim Woodmag berkesempatan untuk berbincang dengan FX. Marsono selaku Kepala Sekolah SMK PIKA, ia bercerita bahwa awalnya pihak panitia dari gereja yang menghubungi sekolah secara langsung untuk menawarkan proyek spesial tersebut pada awal 2024 lalu.
“Kami menerima kabarnya pada 2 Februari 2024. Saya dihubungi melalui WhatsApp oleh Romo Hani, pastor paroki Gereja Katedral Jakarta,” ujarnya.
Dalam pesan yang diterimanya tersebut, Marsono mendapatkan informasi bahwa Paus Fransiskus direncanakan akan berkunjung ke Indonesia pada September 2024.
“Dari pihak panitia bilang akan memesan dua kursi, apakah PIKA bersedia? Saya sampaikan bahwa kami sanggup dan menerima permintaan tersebut,” ungkapnya bangga.
Marsono pun menambahkan, “Kami tidak mengajukan diri tapi dihubungi panitia, karena sudah mengetahui PIKA sehari-hari memang membuat produk olahan kayu, termasuk perabot gereja.”
Kabar gembira tersebut pun langsung disampaikan FX. Marsono kepada guru-guru dan manajemen. Ia pun menegaskan bahwa proyek ini harus melibatkan siswa. Pasalnya, SMK PIKA mendapatkan kepercayaan ini karena mereka adalah institusi pendidikan atau sekolahan.
“Jadi harus melibatkan siswa meskipun tidak 100%. Sehingga pada akhirnya kursi Paus ini dibuat dari hasil kolaborasi antara siswa, guru, dan karyawan SMK PIKA,” ujarnya.
Siswa dipilih berdasarkan kapasitas dan kompetensi
Meneruskan kabar baik tersebut, para guru pun langsung ditugaskan untuk memilih siswa yang dirasa cocok untuk melakukan proyek kolaborasi ini. Dari situ terpilihlah delapan siswa dan siswi dari kelas 11-12 yang didukung kapasitas serta kompetensi dari setiap individu.
“Kami memilih berdasarkan keahlian di bidang A, B, C. Meski nanti mereka akan bekerja secara berkelompok, minimal mereka harus memiliki salah satu kemampuan yang menonjol. Misalnya di bidang gambar ada siapa, proses pembahanan siapa, proses mesin siapa,” terang Marsono.
Meskipun dia tidak memungkiri bahwa realitanya saat di lapangan dan proses produksi, semua siswa yang terlibat akan bekerja bareng dan saling membantu satu sama lainnya.
Salah satu siswa SMK PIKA yang tergabung di proyek pembuatan kursi Paus Fransiskus sekaligus dipercaya menjadi koordinator dari tim siswa, Andrew Yulius Purnomo mengatakan bahwa dirinya sangat senang dan bangga karena bisa menjadi bagian dari proyek ini.
“Ini pertama kalinya saya menerima proyek yang sangat keren dan berharga. Di SMK PIKA saya beberapa kali jadi koordinator proyek lain, tapi ketika dipercaya untuk menjadi koordinator di pembuatan kursi untuk Paus, saya ada kebanggan tersendiri yang dirasakan,” jelas Andrew.
“Sehari-harinya keahlian saya lebih ke bagian pembahanan dan konstruksi. Jadi, dalam pembuatan (kursi-kursi untuk Paus) ini ada beberapa tahap yang harus dilewati, ada pembahanan, konstruksi, rakitan, pengamplasan, dan yang terakhir finishing,” tambahnya.
Andrew pun mengatakan, “Kami (siswa) dipilih yang sudah belajar atau bisa mengoperasikan mesin standar industri, yang bisa mendukung dalam pembuatan kursi Paus ini.”
Melewati proses produksi yang cukup panjang
Menariknya, proses produksi kursi istimewa tersebut ternyata butuh waktu cukup panjang, meski dengan deadline yang juga cukup ketat. Setelah menerima informasi mengenai proyek ini pada 2 Februari, SMK PIKA perlu mengirim kursi tersebut ke Jakarta pada 30 Mei.
SMK PIKA pun diberikan kebebasan untuk menentukan sendiri desain seperti apa yang ingin dibuat, termasuk dengan bahan kayu yang ingin digunakan.
Namun, panitia sudah menentukan ukuran kursi sebagai acuan dalam pembuatan desainnya. Ini yang menjadi alasan dibuatnya dua buah kursi; satu kursi rotan dan satu kursi sofa.
Menurut FX. Marsono, bagian koordinasi desain yang termasuk paling lama karena awalnya kursi yang dibuat Paus ingin dibuat dengan desain yang luar biasa dan totalitas.
Namun, Marsono mengungkapkan, “Setelah dari segi gambar, desain, bahan, dan kainnya di-acc, kami mulai mengerjakan produksinya sekitar satu setengah sampai dua bulan.”
“Waktu mendapatkan kabar ini, kita punya ide bahwa ini [kursinya] harus mencirikan Indonesia,” tambahnya. Bagian ini termasuk dalam pemilihan bahan-bahan apa saja yang digunakan.
Untuk kursi rotan sendiri, awalnya SMK PIKA ingin membuat kursi yang terlihat mewah dengan menggunakan kayu jati plus bagian duduk dan sandarannya menggunakan rotan. Pasalnya, jati dan rotan memiliki kombinasi yang tampak elegan dan juga mencerminkan ciri khas Indonesia.
Akan tetapi, “Dengan catatan singkat sekali, panitia minta kursi yang sederhana. Gambar dan desainnya dihapus dan jadilah kursi yang kemarin digunakan itu, hanya kursi rotan,” akunya.
Sedangkan untuk yang kursi sofa itu sandarannya terbuat kain yang awalnya ingin dibordir bendera merah putih yang sedang berkibar dan peta Indonesia dari Sabang hingga Merauke.
Ide mewah tersebut juga tidak diterima oleh pihak panitia karena mereka hanya ingin kursi sederhana serta cukup dengan menambahkan logo kepausan di sofa tersebut.
Andrew pun mengakui kesulitan dirasakan mulai dari proses desain. “Awalnya kita bingung sekali harus mendesain dari mana, awalnya dapat arahan untuk mendesain dengan mewah.”
“Ternyata panitia minta yang sederhana. Dalam kesederhanaan desain ini, kita mencantumkan sandaran gunung itu yang artinya mencirikan bahwa ini adalah bangsa Indonesia,” tambahnya.
Andrew juga menceritakan tentang pengalaman timnya memilih kayu terbaik yang digunakan untuk membuat kursi tersebut. Setelah proses pembahanan selesai dan dilanjutkan ke konstruksi, di sinilah para siswa berkolaborasi dengan karyawan unit produksi di PIKA.
Selain itu, proses finishing juga menjadi titik terakhir yang sangat penting. Pasalnya, jika proses ini salah dilakukan bisa berdampak fatal pada hasil akhirnya.
“Hasil akhir yang akan menentukan itu, sehingga ketika dilakukan, kami juga diawasi oleh karyawan dari bagian finishing di SMK PIKA,” tutur Andrew.
Menjadi peluang besar untuk menunjukkan potensi SMK PIKA
Ini bukan kali pertama SMK PIKA mendapat kepercayaan untuk membuat berbagai perabot atau hasil olahan akhir kayu dalam sebuah proyek. Menurut Andrew, proyek seperti ini sangat menarik baginya karena ia mendapatkan kesempatan untuk belajar banyak ketika terpilih sebagai koordinator yang memimpin sebuah tim.
“Ketika tergabung dalam proyek, kita juga tidak lupa membawa kualitas SMK PIKA. Kita harus membuat produk dengan kualitas terbaik. Jika berbicara dalam konteks pendidikan, kalau salah masih bisa dimaklumi dan mengulang. Namun, ketika kita mengerjakan proyek, sudah ada persetujuan dengan target yang membuat kedisiplinan kami menjadi penting,” jelasnya.
Di sisi lain, dengan penuh antusias, “Bagi saya, proyek pembuatan kursi Pope Francis ini menjadi hadiah untuk SMK PIKA. Pernah ada yang bertanya, kursinya akan dijual nggak dan berapa harganya. Tidak ternilai harganya karena kursi itu dibuat dengan hati,” ungkap Andrew.
Tak hanya itu, ia berharap proyek-proyek seperti pembuatan kursi Paus saat ke Indonesia ini dapat menunjukkan sekaligus mengembangkan potensi dari para siswa/i SMK PIKA.
“Harapannya anak-anak SMK PIKA dari sebelum lulus sudah bekerja di suatu proyek atau di perusahaan, agar saat lulus mandiri atau langsung kerja serta membantu negara dengan tidak menambah angka pengangguran,” pungkas Marsono.