Wednesday, September 23

Hendrik Tea: Jaga Konsistensi Bisnis Keluarga agar Tetap Relevan di Pasar yang Terus Berkembang

Hendrik Tea: Jaga Konsistensi Bisnis Keluarga agar Tetap Relevan di Pasar yang Terus Berkembang

Lama berkarier di perusahaan perbankan menjadi modal yang cukup untuk Hendrik Tea yang kini menjabat sebagai General Manager melanjutkan karier di departemen pemasaran, purchasing, dan non-production PT Ginsa Inti Pratama yang berlokasi di Tangerang, Banten.

Perusahaan keluarga yang memulai operasi pertamanya pada 2006 ini awalnya muncul dari permintaan pasar lokal akan berbagai jenis pengikat. 

Dari peluang industri tersebut, akhirnya PT Ginsa Inti Pratama memutuskan untuk membuka pabrik dan memproduksi pengikat sendiri.

Melalui wawancara bersama tim Majalah Woodmag, Hendrik bercerita meski dirinya lebih banyak terlibat dalam urusan non-production, tetapi selama hampir 15 tahun terjun langsung di industri ini dan merasakan pasang surut, dirinya juga akhirnya belajar mengenai teknis.

Apalagi berperan sebagai General Manager kini cukup kompleks, di mana ia membawahi semua departemen. “Meski begitu, untuk yang berbau teknis tetap dipegang oleh Factory Manager (FM). Jadi, walaupun laporan ke saya, mungkin yang lebih detailnya ke FM,” jelasnya.

Sebagai penerus di generasi ke-lima, Hendrik juga telah melewati berbagai fase dalam perubahan bisnis dan industri. 

Apalagi perubahan terkait produk yang terus berkembang dan dikembangkan sejalan dengan permintaan pasar yang semakin luas serta meningkat.

Relevan dengan beradaptasi ikuti perkembangan pasar

Sejak pertama kali beroperasi sebagai perusahaan pengikat, PT Ginsa Inti Pratama hanya mampu memproduksi beberapa jenis baut dan mur. 

Kini, mereka mampu memproduksi berbagai jenis pengikat dengan beragam ukuran dan bahan dasar berstandar internasional.

“Perkembangannya cukup drastis karena mengikuti dengan adanya perkembangan di pasar. Misal sebelumnya kita hanya develop satu jenis material, carbon steel, sekarang kita mulai bisa bikin brass atau kuningan, lalu juga bikin stainless steel. Itu dari segi material,” terang Hendrik.

Tak hanya itu, Hendrik menegaskan dari segi fasilitas, PT Ginsa Inti Pratama juga mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Dari yang sebelumnya diameter produk terbatas di angka 8 atau 10, sekarang sudah mampu memproduksi hingga diameter 14. 

Dengan upaya untuk konsisten mengembangkan produk agar terus relevan di pasaran, perusahaan menunjukkan bagaimana kemampuan beradaptasi menjadi salah satu kunci utama untuk terus sustain.

Hal ini terbukti hingga generasi ke-lima, PT Ginsa Inti Pratama masih terus berdiri kokoh dan berpegang teguh pada Unique Selling Point (USP) yang dipegang sejak perusahaan ini pertama kali beroperasi hingga hari ini; yaitu tidak hanya eksklusif diri pada satu market, melainkan ke berbagai sektor mulai dari otomotif, furnitur, elektronik, hingga konstruksi.

“Jika ditanya USP kita apa? Pertama, kita bisa memfasilitasi semua jenis market. Kedua, karena background kita otomotif, kualitas yang diberikan pasti tidak sembarangan,” tambahnya.

Untuk mendukung pernyataannya, Hendrik juga terbuka soal bagaimana PT Ginsa Inti Pratama melewati sistem ISO (International Organization for Standardization) dan menerapkan standar ISO TS, sebuah standarisasi sistem manajemen mutu khusus otomotif, pada seluruh lini produknya. 

Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa baut atau fastener yang digunakan pada furnitur memiliki standar kualitas terbaik yang sama dengan dengan komponen mobil.

Tantangan di dalam negeri hingga motivasi untuk ekspor

Ketika ditanya terkait distribusi produk, Hendrik bercerita saat ini produk-produknya telah merambah ke pasar ekspor, salah satunya perusahaan otomotif ke Vietnam. 

Meski begitu, banyak produk PT Ginsa Inti Pratama yang diekspor secara tidak langsung, misalnya melalui produk jadi furnitur maupun otomotif dari para kliennya, ia optimis untuk bisa memperluas distribusi ekspor menembus pasar Amerika Serikat dan Eropa secara langsung.

“Mungkin saat ini ekspor barang kami memang secara tidak langsung, dalam arti saya supply ke perusahaan furnitur, ke perusahaan otomotif, lalu mereka ekspor sebagai bentuk barang jadinya. Jadi, produk kami dipakai dalam produk dari perusahaan-perusahaan ini untuk mereka ekspor ke luar. Memang tidak direct, tetapi lewat mereka,” ungkapnya.

Sedangkan untuk kondisi berbisnis di lingkup lokal, Hendrik menyayangkan masih adanya tantangan terkait material berkualitas tinggi untuk fastener tertentu yang masih harus diimpor. Hal ini disebabkan standar lokal sering kali belum memenuhi kriteria yang dibutuhkan.

Meski begitu, dari segi customer lokal, kebutuhannya masih bisa ditakar, jadi tantangannya tidak terlalu sulit untuk diatasi. 

“Paling perubahannya tergantung dari adanya alasan cost reduction biasanya. Jadi, kalau ada cost reduction, mereka akhirnya ajukan efisiensi dengan cara meminta perubahan produk. Tapi itu juga tidak terlalu signifikan.”

Dengan membawahi sekitar 270 karyawan, Hendrik menekankan pentingnya komitmen, integritas, dan kejujuran. Sebagai seorang “people person” yang berlatar belakang marketing, ia percaya bahwa menjaga hubungan baik dengan customer adalah kunci keberlanjutan bisnis, selain kualitas produk itu sendiri. 

“Target saya adalah membawa perusahaan ini ke level internasional yang lebih luas lagi dan memperlengkap sistem yang ada agar kita tetap di jalur yang benar,” tutup Hendrik dengan optimis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Toggle Dark Mode