Tuesday, August 4

Jatuh Bangun Christianto Prabawa: Puluhan Tahun Pelajari Industri Furnitur hingga Perusahaan Alami Kebakaran

Jatuh Bangun Christianto Prabawa: Puluhan Tahun Pelajari Industri Furnitur hingga Perusahaan Alami Kebakaran

Christianto Prabawa yakin untuk mendirikan perusahaan sendiri usai kurang lebih 10 tahun mengemban ilmu dan memupuk pengalaman bekerja di industri furniture.

Saat diwawancarai tim Woodmag Magazine, laki-laki yang lebih akrab disapa Chris itu mengungkapkan perusahaan furnitur miliknya yang diberi nama Mebel International didirikan pada 2005.

Lantas, lebih dari dua dekade, tantangan demi tantangan dihadapi melewati berbagai era sekaligus perkembangan industri dan teknologi dengan dinamika cepat.

Dimulai dari perusahaan yang hanya berisikan dua orang karyawan, kini Mebel International yang berlokasi di Kawasan Industri Tambakaji, Semarang, memiliki kurang lebih 250 karyawan. 

“Gedungnya dulu itu 200 meter persegi. Hari ini kami berkembang hingga 12.500 meter persegi. Cukup berkembang pertumbuhannya,” jelas laki-laki berlatar belakang pendidikan perkayuan ini 

“Kita terus berkembang,” menjadi salah satu kalimat yang terus diulang Chris untuk mengingatkannya bahwa bisnis terus berkembang. “Buyer-nya pun terus bertambah,” lanjutnya.

Ketertarikan Chris pada industri ini dimulai sejak menempuh pendidikan di SMK PIKA di Semarang pada 1989. Setelah lulus, ia pun kembali melanjutkan pendidikan ke Akademi PIKA pada 1994-1996. 

Dengan latar pendidikan tersebut, Chris mengaku jadi sangat familiar dengan furnitur. “Mungkin furnitur salah satu bidang yang paling saya kenal,” tegasnya.

Cari pengalaman puluhan tahun sebelum dirikan perusahaan

Bermodalkan latar belakang pendidikannya itu, Chris memulai karier di Jakarta pada 1996. Saat itu, ia bekerja di sebuah kantor furnitur untuk membuat cubicle

Memasuki krisis moneter 1998, Chris memutuskan pergi ke Semarang untuk bekerja di pabrik milik orang Amerika. Pasalnya, saat itu dolar mengalami lonjakan tinggi, sehingga industri ekspor berkembang. 

Alhasil, pertumbuhan perusahaan itu pun mengalami perkembangan mulai dari mampu membeli mesin, bahan, hingga kapasitas order meningkat. Chris pun menghadapi masa berjaya perusahaan itu. 

“Tahun 2000 saya pindah ke belajar yang furnitur lebih eksklusif. Saya ikut orang Italia, sampai 2005. Setelah punya kurang lebih 10 tahun pengalaman, mulailah mendirikan Mebel International,” lanjutnya.

Setelah mendirikan perusahaan sendiri, tantangan pun kerap hadir di tengah perkembangan bisnisnya, yang berbeda bentuknya seiring berjalannya waktu. 

Pada masa awal, Chris mengaku masih dilema antara kembali bekerja untuk menerima gaji, atau menjadi orang yang memberikan gaji. Apalagi banyak kebutuhan awal yang baru ia temukan saat menjalankan. 

“Banyak kebutuhan awal yang di atas buku kita coba memprediksi, merancang kebutuhannya apa, tetapi dalam pelaksanaannya, mengenai misalnya dinamo mesin ini panas, rusak, itu tidak ada di catatan teori, baru setengah tahun sudah rusak, harus diperbaiki,” aku Chris.

Menurutnya, tantangan awal dalam membuat perusahaan yang paling terasa ialah permodalan dan konsistensi pesanan. Saat itu, Chris harus mendatangi perusahaan lain untuk menawarkan service-nya.

Kemudian beranjak ke 2006, Chris berhasil bertemu buyer yang melakukan ekspor dan perusahaannya lebih established sehingga dirinya tinggal mengikuti guideline yang sudah ada.

“Sekarang tantangannya bagaimana memastikan konsistensi kualitas, konsistensi keberadaan bahan baku, mesin-mesin yang tepat, dan sebagainya. Jadi tantangan selalu ada dan berkembang,” akunya.

Sempat terpuruk, kemudian cepat bangkit kembali

Salah satu tantangan yang paling membekas untuk Chris dalam perjalanannya membangun Mebel International yaitu ketika 2008 terkena musibah kebakaran di ruang finishing

Saat itu, gedungnya berdampingan dengan perusahaan yang sedang mengelas dan memasang besi tambahan. Musibah itu terjadi karena percikan apinya jatuh ke gedungnya, tepat di ruang finishing yang di dalamnya banyak thinner dan cat berbahaya, sehingga api dengan cepat menyebar.

“Kami kebakaran, dari 12.000 meter itu kami hilang 3.000 meter persegi. Tapi karena itu masih awal-awal, masih 2 tahun, buyer pun masih banyak mendukung untuk mengatasi kerugian,” ungkapnya.” 

“Jadi langsung cepat beli kayu, beli bahan, dan usahanya jalan lagi,” lanjutnya mengenang kejadian tersebut. Syukurnya setengah tahun kemudian, bisnisnya pun bisa berjalan dengan normal lagi.

Di sisi lain, Chris mengaku pada saat pandemi Covid-19, dampaknya tidak terlalu masalah. Pasalnya, Mebel International memiliki dua sektor usaha: retail di Inggris dan hospitality di Amerika Serikat yang tumbuh dengan timeline berbeda.

Ketika ekonomi sedang mengalami pertumbuhan sebelum pandemi, banyak orang yang mendambakan healing dan staycation, sehingga bisnis hospitality-nya naik meski retail cenderung stagnan. 

Akan tetapi, keadaan berubah setelah Covid-19 di mana kondisi pandemi memaksa orang-orang untuk tetap di rumah, hospitality pun menjadi sangat menurun tapi bisnis retail melonjak karena orang-orang mulai tertarik untuk merombak rumah mereka.

Jika melihat dari perkembangan industrinya, teknologi menjadi salah satu bagian yang paling terasa memudahkan proses produksi. 

Apalagi perusahaannya juga mengadopsi teknologi produksi yang lebih modern, seperti mesin CNC (Computer Numeric Control). Teknologi ini memungkinkan proses pemotongan dan pembuatan komponen furnitur dilakukan dengan presisi tinggi dan waktu yang jauh lebih cepat.

Sayangnya, terkadang masih ada kesulitan untuk mencari orang yang mampu menjalankan operatornya sehingga harus mendatangkan orang untuk mengoprasikan dari negara asal mesinnya untuk mengajarkan cara menggunakannya. 

Chris pun berharap agar Indonesia mampu memiliki industri mesin sendiri, sehingga para pelaku industri tidak harus terus menerus membeli mesinnya di negara lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Toggle Dark Mode