
Industri manufaktur ialah salah satu fondasi utama pertumbuhan ekonomi karena berperan dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah produk, serta mendorong perkembangan teknologi dan inovasi.
Di tengah perubahan lanskap bisnis global dan percepatan transformasi digital, sektor ini menghadapi beragam tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi hingga dinamika rantai pasok internasional.
Pemahaman mendalam mengenai tantangan ini diperlukan agar pelaku industri dapat merumuskan strategi efektif yang tidak hanya mempertahankan daya saing, tetapi juga mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan sesuai tuntutan ekonomi modern.
Namun, di sisi lain, industri manufaktur Indonesia menghadapi berbagai tekanan besar: tuntutan efisiensi, kualitas yang lebih konsisten, biaya produksi yang naik, hingga persaingan global.
Pasalnya, banyak pabrik masih mengandalkan proses manual dan hal ini jadi salah satu akar dari sebagian besar masalah yang dihadapi industri manufaktur dalam negeri.
Berikut beberapa permasalahan serius dalam industri manufacturing yang dapat membuat proses produksi terhambat.
1. Proses masih dilakukan secara manual
Berdasarkan data di lapangan, masih banyak pabrik manufaktur Indonesia yang masih memakai dokumen manual atau komputer, tetapi sistemnya belum terintegrasi secara maksimal.
Maka itu, semua aktivitas, baik transaksi maupun urusan lainnya, masih dicatat menggunakan alat tulis.
Hal ini biasanya dilakukan perihal pabrik didirikan sebelum maraknya teknologi IT, perusahaan belum menemukan software yang sesuai, hingga kurangnya referensi dan benchmarking. Akibatnya, data bisa tercecer dan adanya potensi kehilangan data atau dokumen kertasnya.
Komunikasi juga menjadi lambat akibat hanya mengandalkan komunikasi verbal dan tatap muka. Lalu, kesalahan input menjadi tinggi karena proses data yang sama terjadi berkali-kali.
Tidak ada traceability karena saat data ingin dilacak, arsip yang berupa kertas harus dicari satu per satu.
Untuk mengatasi hal ini, solusinya yaitu:
- Perlu dilakukan perubahan dengan cara merubah aliran dokumen yang selama ini berjalan, me-review kembali salinan dokumen yang diperlukan beredar di lapangan
- Digitalisasi Work Order, QC, dan laporan produksi.
- Integrasi barcode/RFID. Dengan integrasi dengan IoT, akan menurunkan tingkat kesalahan yang terjadi di proses produksi.
2. Perencanaan produksi tidak akurat
Proses pembuatan rencana produksi juga menjadi tantangan besar di manufaktur indonesia. Sales order yang masuk mendadak dan ingin diprioritaskan akan menambah kerumitan situasi.
Ada juga kondisi di mana mesin down mendadak atau operator absen/ganti shift mendadak. Semua hal tersebut membuat proses pembuatan rencana produksi menjadi sulit.
Pada akhirnya, jadwal produksi menjadi berantakan, sistem diabaikan, dan kembali ke sistem manual, yaitu perencanaan menggunakan insting.
Akibatnya, jadwal produksi menjadi kacau, setup time mesin menjadi tinggi, produktivitas pabrik menjadi rendah, dan profitabilitas perusahaan bisa menurun.
Karena itu, solusinya yaitu:
- Terapkan komunikasi dan respon yang cepat yang berlaku di lapangan, di mana leader memiliki SOP yang jelas bila terjadi kondisi yang abnormal di lapangan
- Tetapkan job desc dan otoritas yang jelas, dimana kepala produksi harus mempunyai otoritas untuk mengubah urutan produksi sesuai dengan kondisi lapangan.
- Gunakan dashboard real time dan didukung dengan software yang bisa menampilkan kondisi lantai produksi sehingga saat ada terjadi penyimpangan, kepala regu bisa segera mengambil tindakan.
- Gunakan kanban sistem untuk monitor ketersediaan bahan baku dan barang jadi.
3. Tidak ada monitoring mesin secara real time
Proses produksi mutlak harus dilakukan monitoring, karena pergerakan output menjadi hal yang sangat penting dalam menilai produktivitas dan efisiensi dari proses produksi. Namun, terkadang monitoring masih dilakukan manual dan harus menunggu jeda waktu untuk menampilkannya.
Karena data produksi manufaktur ditampilkan tidak real time, maka keputusan yang didapat pun berpotensi terlambat dan menjadi kurang efektif. Untuk kondisi pabrik yang luas dan semakin komplek hal ini malah menjadi salah satu sumber pemborosan waktu.
Data yang tidak real time akan mengakibatkan downtime tidak pernah dicatat dengan benar. Machine utilization juga selalu terlihat “baik” padahal realitanya buruk.
Lalu, performance mesin tidak diketahui apakah sudah maksimal atau belum, hingga kualitas hasil produksi juga sulit untuk diketahui. Pada akhirnya, OEE (Overall Equipment Effectiveness) juga tidak bisa dipantau dan diukur dengan tepat.
Karena itu, solusinya yaitu:
- Buatkan monitoring real time yang sederhana, display output, display downtime dan hal-hal kritikal yang perlu di tampilkan di area produksi sehingga output bisa dihitung secara real time.
- QC dicatat langsung ke dalam sistem sehingga tingkat reject bisa langsung terhitung secara otomatis.
- Downtime mesin harus dicatat di sistem sehingga tingkat availabilitas mesin langsung terhitung secara otomatis.
- Bila semua itu sudah didapat, maka tinggal tampilkan Dashboard OEE real time.
4. Human error yang mengakibatkan waste & loss meningkat
Human error adalah hal yang sering mengakibatkan suatu kesalahan dalam proses manufaktur. Banyak masalah karena kesalahan manusia sehingga prosesnya harus didesain untuk mencegah hal tersebut.
Pabrik manufaktur Indonesia masih banyak mengandalkan ketelitian operator dalam melakukan pekerjaannya. Dengan cara kerja seperti itu, faktor kesalahan manusia mudah sekali masuk.
Beberapa kesalahan yang mungkin bisa terjadi, antara lain kesalahan timbang, salah catat/input, salah ambil bahan, salah cetak SKU (Stock Keeping Unit), dan lainnya.
Kesalahan ini pun mampu mengakibatkan kualitas produk rendah, rework atau pengerjaan ulang tinggi, produktivitas rendah, dan profitabilitas turun. Untuk itu, cara untuk mengatasinya yaitu:
- Melakukan standarisasi skill, proses yang kritikal harus dilakukan uji kompetensi secara berkala.
- Scan bahan baku menggunakan barcode/RFID scanner untuk menghindari salah ambil bahan.
- Gunakan sensor infra merah atau timbangan digital untuk menghitung hasil produksi.
- Cetak label hasil produksi dan pengeluaran barang/pengiriman barang secara otomatis dengan barcode.
5. Sulit menelusuri barang yang rusak
Kemampuan produk untuk ditelusuri history produksinya (Product Traceability) adalah hal yang sangat penting dalam industri manufaktur modern, karena itu termasuk salah satu jaminan kualitas produksi.
Dalam industri manufaktur Indonesia, karena pencatatan produksi masih manual, sulit sekali untuk menelusuri akar masalah saat terjadi cacat produksi/recall.
Tidak diketahui dengan pasti ataupun dengan cepat tanggal produksi, mesin apa yang dipakai, material kapan yang dipakai, dan apa saja performa proses yang terjadi saat produksi barang tersebut.
Untuk mengatasi hal ini, dapat dilakukan dengan:
- Membiarkan operator yang mengerjakan pekerjaan sesuai bidangnya
- Memberikan kode item dan batch number bahan baku
- Memperhatikan kode mesin yang digunakan
- Cetak label produksi/BN/ED secara otomatis
6. Setting time mesin tinggi
Keberagaman tipe produk yang dikerjakan dalam satu proses manufaktur menjadi tuntutan customer. Pasalnya kebutuhan dan minat mereka selalu berganti seiring berjalannya waktu.
Maka dari itu, Industri harus menyesuaikan dengan memakai sistem manufaktur yang lincah, mudah berganti model, dan minim waktu untuk perubahan model.
Sayangnya, beberapa industri manufaktur Indonesia masih membutuhkan mesin produksi yang setup time-nya tinggi. Di mana tidak hanya waktu kerja mesin yang terbuang, termasuk juga material yang kadang harus terbuang juga.
Contohnya adalah di industri plastik, setup molding atau blower saat ganti model dan warna produk membutuhkan waktu yang sangat panjang.
Hal ini akan berdampak pada output rendah, produktivitas turun, biaya tinggi, dan profitabilitas ikut turun. Untuk itu, bisa diatasi dengan:
- Sistem penjadwalan produksi yang bisa mengelompokan order yang sama untuk meminimalisir setup time
- Monitoring setup secara real time
- Memodifikasi proses ataupun mesin untuk mendapatkan waktu setting yang singkat dan optimal
