
Quality control sangat penting untuk menjaga agar produk yang dihasilkan sesuai dengan kualitas yang ditetapkan oleh perusahaan.
Dengan produk berkualitas baik, hal itu juga menjadi penentu keberhasilan perusahaan untuk meningkatkan kepercayaan konsumen.
Pasalnya, konsumen sering terpengaruh pada posisi perusahaan di pasar dan akan setia jika perusahaan tersebut memiliki reputasi baik dengan produk yang kualitasnya terus konsisten.
Untuk mampu mempertahankan kualitas produk, di sini lah quality control diperlukan. Dalam penerapannya diperlukan pendekatan yang sistematis yang terukur, salah satunya dengan menggunakan quality control (qc) tools.
Dalam industri manufakturing, ada 7 qc tools yang umumnya digunakan. Tools ini juga seringkali diadopsi secara luas di luar industri ini.
7 qc tools sendiri merupakan alat pengendalian kualitas yang pertama kali diperkenalkan oleh Kaoru Ishikawa pada 1968. Alat ini dirancang untuk membantu perusahaan mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan masalah kualitas secara efektif.
Alat ini juga memberikan cara sistematis untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan data. Dengan alat ini, perusahaan dapat mengidentifikasi penyebab utama masalah kualitas dan merancang solusi yang tepat.
Berikut penjelasan mengenai 7 qc tools sebagaimana melansir dari Productivity & Quality Management Consultants.
7 QC Tools dan cara penggunaannya
1. Stratification (stratifikasi)
Stratifikasi digunakan untuk mengelompokkan data berdasarkan kategori tertentu untuk analisis lebih lanjut. Alat ini mempermudah analisis dengan mengelompokkan data berdasarkan karakteristik.
Stratifikasi dibuat sebagai pendahuluan dalam menganalisa masalah, sehingga Analisa bisa dilakukan lebih fokus dan berurutan. Langkah-langkah penggunaan:
- Tetapkan tujuan analisis
- Tetapkan jenis data yang dibutuhkan
- Klasifikasikan data
- Susun tabel rancangan
- Isi hasil rancangan ke check sheet
Contoh pemakaiannya dalam kasus:
Sebuah pabrik sepatu terdapat suatu permasalahan produk NG yang sering ditemukan di dalam proses, untuk mengumpulkan data dan kelompok data yang akurat, maka bisa dilakukan stratifikasi berdasarkan berikut ini.
| Item Stratifikasi | Metode Stratifikasi |
| Menurut waktu | Shift pagi, shift siang, shift malam |
| Menurut jenis NG | Pudar, lecet, lem terkelupas, dan lain-lain |
| Menurut metode check | Visual, raba, visual dan alat bantu |
| Pemeriksa | Inspektor 1, Inspektor 2, Inspektor 3 |
Sebagai gambaran sederhana, stratifikasi adalah memisahkan mengelompokkan masalah supaya bisa diselesaikan dengan fokus satu per satu.

2. Check sheet (lembar periksa)
Check sheet adalah alat sederhana untuk mengumpulkan data secara sistematis selama proses produksi.
Data yang dikumpulkan kemudian dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut. Alat ini berguna untuk memberikan gambaran awal tentang tren atau pola dalam proses produksi.
Check sheet juga harus diisi dengan rutin dan dalam kurun waktu tertentu sehingga hasil dari pengukuran data dalam check sheet bisa diambil kesimpulan dan gambaran awal terhadap suatu masalah.
Langkah-langkah penggunaan:
- Rancang format check sheet sesuai kebutuhan
- Catat data sesuai kategori yang telah ditentukan
- Tabulasikan data untuk analisis lebih lanjut
Contoh pemakaian check sheet untuk menulis jenis cacat suatu produk di pabrik furnitur:

3. Histogram
Histogram adalah alat visualisasi yang menunjukkan distribusi data, membantu pengguna memahami variasi dalam proses.
Dapat digunakan untuk mengidentifikasi pola distribusi dan variasi dalam proses kualitas. Dari grafik Histogram bisa dilihat variasi dominan dan non dominan yang ada dalam suatu proses.
Langkah-langkah penggunaan:
- Kumpulkan data melalui lembar periksa
- Buat grafik batang yang menunjukkan frekuensi kejadian setiap kategori data

4. Pareto diagram
Alat ini membantu mengidentifikasi masalah utama berdasarkan prinsip Pareto, yaitu 80% masalah disebabkan oleh 20% faktor dan bermanfaat dalam memfokuskan upaya pada masalah yang memberikan dampak paling besar.
Sebagai lanjutan dari histogram, diagram pareto menganalisa tindakan perbaikan sehingga akan lebih akurat dan tepat sasaran.
Langkah-langkah penggunaan:
- Analisis data dari histogram untuk menemukan masalah utama
- Susun grafik batang berdasarkan frekuensi kejadian, dari tertinggi ke terendah
Berikut ini salah satu contoh pemakaian diagram pareto untuk menentukan permasalahan yang dihadapi:

5. Fishbone diagram
Fishbone diagram digunakan untuk mengidentifikasi penyebab utama suatu masalah, menggunakan faktor “5M” (Man, Machine, Method, Material, Measurement).
Diagram ini akan membantu dalam memberikan pandangan menyeluruh tentang semua kemungkinan penyebab masalah.
Langkah-langkah penggunaan:
- Tentukan masalah utama yang akan dianalisis
- Identifikasi faktor-faktor penyebab utama dan buat cabang untuk setiap faktor
- Tambahkan rincian untuk setiap cabang untuk menemukan akar penyebab masalah

6. Scatter diagram
Scatter diagram digunakan untuk menguji hubungan antara dua variabel dan menentukan apakah terdapat korelasi positif, negatif, atau tidak ada hubungan sama sekali yang berdampak pada terjadinya suatu masalah.
Langkah-langkah penggunaan:
- Kumpulkan data pasangan variabel (X dan Y)
- Plot titik-titik pada grafik untuk menunjukkan hubungan.
Contohnya:

7. Control chart (peta kendali)\
Control chart digunakan untuk memantau stabilitas proses dari waktu ke waktu. Peta kendali ini dapat membantu melihat pola perubahan yang dapat memengaruhi stabilitas proses menuju peningkatan produktivitas.
Langkah-langkah penggunaan:
- Tentukan data yang akan dimonitor, seperti waktu produksi atau kualitas produk
- Tentukan batas kontrol atas (Upper Control Limit), bawah (Lower Control Limit), dan rata-rata (Center Line)
- Plot data secara berkala untuk melihat apakah ada penyimpangan
Contohnya:

