
Perusahaan ramah lingkungan yang mengolah sampah menjadi furniture dan dekorasi interior ini dibangun oleh Syukriyatun Niamah berdasarkan keresahannya selama ini.
Awalnya Syukriyatun Niamah mempertanyakan mengapa permasalahan sampah di Indonesia tidak kunjung berakhir dan terus menumpuk hingga ke jalan.
Kegelisahan ini terus dirasakannya, terutama saat perempuan yang akrab disapa Niam ini aktif sebagai mahasiswa yang sering ikut berbagai kegiatan komunitas lingkungan.
“Hampir tiap minggu clean up, tapi besoknya sudah kotor lagi. Kadang kita lagi clean up, malah dititipin sampah. Ini masalah mindset berarti,” ujarnya saat diwawancarai Woodmag Magazine.
Ide untuk membuat sebuah perusahaan seperti Robries (PT Siklus Karya Global) pun hadir sejak 2016 dan Niam pun mulaii melakukan eksperimen untuk merealisasikan ide tersebut.
Akan tetapi, Niam mengaku bahwa saat itu dirinya belum ada niat untuk meneruskan jadi bisnis.
Namun,, Niam sadar banyak orang yang masih belum terbiasa memilah sampah, bahkan ketika sampah sudah dipilah, sering kali tidak jelas pengolahannya seperti apa dan akan jadi apa.
Maka dari itu, Niam melihat adanya kelemahan dalam ekosistem daur ulang di Indonesia, salah satunya dari kurangnya value creation sampah yang telah dikumpulkan.
Tak berhenti sampai situ, ia juga menemukan ironi di lapangan soal daur ulang.
Di mana beberapa pengrajin yang berkarya dengan daur ulang sampah, kadang justru menciptakan sampah baru dalam proses pengerjaannya demi memenuhi permintaan pasar.
“Misalnya mereka bikin lampu dari kepala sendok plastik, hanya bagian kepala sendoknya saja yang dipakai. Lalu ketika ada order banyak, sampah itu kan tidak utuh, jadinya mereka harus beli sendok baru yang dipatah-patahin. Akhirnya jadi bikin sampah baru,” jelas Niam.
Dari situ muncul pertanyaan bagaimana menciptakan produk dari sampah plastik yang benar-benar memiliki value creation tinggi, tahan lama, dan cocok dengan minat pasar?
Sampai akhirnya Robries, yang adalah singkatan dari roasted bottle home accessories ini lahir setelah melewati berbagai trial and error hingga menemukan “ritme” untuk diterima di pasar.
Eksperimen panjang hingga menemukan product-market fit
Sebelum fokus dengan Robries, Niam juga sempat mencoba beberapa bisnis, tapi belum benar-benar dijalankan.
Kemudian, sampai di titik banyak dari temannya yang menanyakan bagaimana dengan kelanjutan Robries mengingat isu-isu lingkungan mulai naik lagi di tahun itu.
“Terus susah nih kalau sendirian, makanya saya cari partner untuk jalan. Akhirnya ketemu Mas Handy dan diajakin kolaborasi sampai pameran di Italia. Ternyata mantap juga, pikir saya, yaudah akhirnya diteruskan,” cerita Niam saat terpikir untuk serius menjalankan Robries.
Eksperimen yang dilakukan sejak 2016 pun tak hanya berfokus pada produk, melainkan juga pada pasarnya, termasuk mencari produk yang bisa diterima dengan baik.
Niam pun menjelaskan, “2016 saya masih pakai resin, terus 2018 eksperimen lagi, baru betul-betul dapat produk market fit di 2019.”
Dalam proses pencarian itu, pada 2018 dilakukan eksperimen kembali setelah Niam lulus kuliah dan awalnya hanya fokus pada filament 3D printing.
Sayangnya ketika pandemi, 3D print yang sebelumnya kebanyakan dipakai di laboratorium kampus mulai turun peminatnya karena kegiatan kuliah lebih banyak dilakukan di rumah.
Alhasil, dua tahun kemudian Robries memantapkan diri untuk mulai menekuni furniture, material, dan home decor dengan produk yang telah tersertifikasi.
“Banyak masukan gimana bikin produk yang menyerap sampahnya banyak, tapi nggak cepet dibuang lagi. Akhirnya mikir keras barang apa itu, ya berarti bentuknya furnitur atau building material yang nempel sama properti kan penyerapan sampahnya bisa banyak,” jelas Niam.
Robries yang kini berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur tidak hanya berdiri dari kerja keras Niam, tetapi dibantu tiga founder lainnya dengan peran dan tanggung jawab berbeda.
Mereka adalah Handy sebagai creative director, Tita mengurus human resource, Ano bertanggung jawab soal finansial, dan Niam di bagian marketing dan operations.
Lebih sustain melalui kolaborasi dan partnership
Sejak pandemi COVID-19, kabar baiknya terjadi perubahan pola pikir masyarakat menjadi lebih aware dengan isu-isu lingkungan.
Bahkan menurut Niam sendiri, hal ini berpengaruh dengan bagaimana Robries dipasarkan.
Jika awalnya Niam bingung bagaimana cara memasarkan produknya yang 100% dibuat dari plastik, setelah pandemi konsumen bisa mencarinya.
Dengan awareness yang meningkat ini, orang pun mulai satu demi satu berdatangan ke Robries dengan target ingin menjadi sustainable.
Apalagi ditambah makin tegasnya pemerintah menekan perusahaan yang menghasilkan sampah plastik untuk lebih bertanggung jawab.
Meski awalnya susah diterima, termasuk secara harga, apalagi jika harus bersaing dengan produk furnitur dengan bahan kayu pada umumnya, Niam pun akhirnya mencari pendekatan lain untuk Robries yang menjadi keunggulan mereka: desain, daya tahan, & nilai produk.
“Furnitur plastik apalagi kita solid modelnya, lebih awet dan bisa dipakai indoor maupun outdoor. Jadi pemakaiannya sendiri lebih versatile. Kita juga bisa ngasih nilai tambahan untuk sebuah material yang tadinya udah nggak terpakai, yakni sampah plastik,” tambahnya.
Robries mulai melakukan banyak kolaborasi dengan perusahaan dan brand. Salah satunya yaitu kolaborasi bersama Fore Coffee, untuk menyediakan furnitur berbahan plastik demi mendukung upaya memenuhi target sustainability melalui campaign “FOREsponsible”.
Meski memiliki nilai jual yang tinggi untuk produk furnitur, Niam menegaskan bahwa penjualan Robries kini lebih banyak di material daripada furnitur.
“Kalau material buat desainer itu kan bebas, bisa diaplikasiin di mana aja, bisa buat dinding, lantai, atau pun meja,” tegasnya.
Bahkan, hasil penjualan materialnya memberikan dampak nyata yang menguntungkan. Potato Head menjadi salah satu brand yang sebelumnya mengambil material dari Inggris, kemudian beralih ke Robries hingga hari ini.
“Jadi kita lebih mengejar ke jangka panjang untuk kolaborasi dan partnership. Karena goals untuk mengurangi sampah plastik butuh lebih sustain lagi.”
Untuk terus menjaga kolaborasi dan partnership tersebut, Niam mengatakan Robries sangat transparan dengan konsumen terkait efek atau dampak terhadap lingkungan dan sosial dari produk yang mereka hasilkan melalui report lengkap yang akan diberikan kepada konsumen.
Ia menjelaskan, “Kalau mereka (perusahaan atau brand) butuh data dalam satu proyek, dampak recycle plastiknya berapa banyak, kemudian CO2 emission reduction-nya berapa banyak, komunitas yang terlibat berapa banyak, itu Robries akan kasih report-nya.”
Ekspansi hingga meluncurkan campaign perdana tahun ini
Ketika ditanya mengenai target terdekat yang ingin dicapai bersama Robries, Niam menuturkan kini perusahaannya telah memiliki distributor di luar Indonesia, yaitu Singapura dan Malaysia.
Tak berpuas sampai situ, ia menambahkan adanya rencana ekspansi distributor di Australia.
Ini ialah sebuah pencapaian yang luar biasa, sekaligus menjadi langkah awal yang baik untuk Robries semakin dikenal produknya secara mendunia.
Apalagi mengingat produknya juga telah dieksplor ke berbagai negara seperti Eropa, Italia, Belanda, Australia, Jepang, dan lainnya.
Niam pun membagikan rencana campaign perdana Robries yang disebut “Material Connection”.
Melalui campaign ini, mereka akan mengajak tiga desainer dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura untuk eksplor material, pattern, atau warna baru untuk produk recycle plastik.
“Kemudian eksplorasi juga di produknya, akan ada produk baru yang dibuat bersama para desainer,” tambahnya.
Menariknya lagi, campaign ini akan dilanjutkan dengan mengadakan roadshow event di ketiga negara tersebut sepanjang 2026 yang dimulai dari Juni di Jakarta.
“Apa yang menyenangkan dari pekerjaan ini? Ada dampak nyata yang terasa langsung, ungkap Niam sambil tersenyum seakan mengingat perjalanannya hingga saat ini
“Visi awal kita mau bawa perubahan mindset itu berasa, bisa langsung berubah mindset [orang-orang] dengan melihat produk Robries bahwa sampah bisa dibikin jadi produk valuable,” pungkasnya.
